TRIBUNSUMSELCOM, KAYUAGUNG-- Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (DPKAD) Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) memastikan pembayaran gaji pegawai negeri sipil bulan Agustus 2022 segera disalurkan.. Kepala BPKAD OKI, Ir. Munim, MM mengatakan pihaknya telah berkoordinasi dengan Kantor Wilayah DJPB Provinsi Sumsel selaku penyalur Dana Alokasi Umum (DAU) yang salah satu komponennya yaitu gaji KomisiIV DPRD Bengkalis memanggil Dinas Pendidikan (Disdik) Bengkalis untuk bertemu dengan perwakilan para guru di Bengkalis membahas beberapa persoala Gaji Guru Madrasah Turun, Komisi IV DPRD Panggil Disdik Bengkalis, Ini Solusinya - Cakaplah - Berpikir Berbuat Bercakap TUNJANGAN- PIMPINAN DAN ANGGOTA DPRD. 2020. Peraturan Bupati (PERBUP) NO. 1, BD. 2020/ No. 1. Peraturan Bupati (PERBUP) TENTANG Pengelompokan Kemampuan Keuangan Daerah, Besaran Tunjangan Komunikasi Intensif dan Tunjangan Reses Bagi Pimpinan dan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Bengkalis serta Pelaksanaan dan Pertanggungjawaban Dana Operasional Pimpinan Dewan Perwakilan Gajianggota dprd jateng akan naik dari semula rp 31 juta per bulan menjadi rp 59 juta per bulan. Harga beras per kilogram di pasaran yang biasa dikonsumsi rio adalah rp12 ribu per kilogram, sehingga nisab zakat maal rio adalah rp6.240.000. Mantap bukan menjadi anggota dprd kabupaten pacitan. Beragam cara dilakukan, berbagai upaya dilakoni. BENGKALIS PROKOPIM - Pj. Bupati Bengkalis H. Syahrial Abdi bersama Forkopimda Kabupaten Bengkalis menghadiri Rapat Paripurna Istimewa DPRD Bengkalis dalam rangka Pengucapan Sumpah Janji Pengganti Antar Waktu (PAW) Anggota DPRD Bengkalis, sisa masa jabatan 2019-2024, di Ruang Rapat Paripurna DPRD Bengkalis, Rabu, (31/12/2020). . Teks foto Anggota Komisi I dan IV datangi Gedung Kementerian Pemberdayaan Aparatur Negara Reformasi Birokrasi Kemenpanrb Republik Indonesia Jakarta, Humas DPRD - Anggota Komisi I dan IV datangi Gedung Kementerian Pemberdayaan Aparatur Negara Reformasi Birokrasi Kemenpanrb Republik Indonesia di Jakarta Pada Hari Kamis 19/10/2022. Kedatangan anggota DPRD dipimpin langsung oleh Wakil Ketua II Sofyan, bersama ketua Komisi I Febriza Luwu, wakil ketua komisi I Mustar J. Ambarita, sekretaris komisi I Nanang Harianto, SH, ketua Bapemperda Sanusi, SH. Sekretaris Komisi IV Irmi Syakip Arsalan, anggota komisi IV Bationg Sihite, Erwan, Hj. Zahraini B, M. Pd, Andi Fahlefi, Rosmawati Sinambela, Giyatno. serta di dampingi dari OPD terkait yaitu BKPP, Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan, dan Holtikultura Kabupaten Bengkalis. Tibanya rombongan di sambut oleh Perwakilan Asisten Deputi Bidang SDM Aparatur dan Deputi SDM Aparatur Cindy dan Yoga serta Koordinator Humas Kementerian PANRB, Elvan di Ruang Pertemuan lantai satu. Pertemuan saat itu bergabung dengan Provinsi Lampung, Kabupaten Belitung Timur dan Sukoharjo. Koordinator Humas Kemenpan RB, Elvan mengucapkan terima kasih kepada seluruh anggota yang hadir. Febriza Luwu mengatakan, "secara terpisah dimana gaji belanja pegawai boleh di input data nya untuk pendataan PPPK, kenapa di belanja barang dan jasa tidak dimasukkan dalam penginputan Data Base untuk ikut P3K. honorer itu sama-sama SK Bupati, sama-sama legal cuma di kegiatan yang berbeda ini menjadi polemik di daerah kami. Tambah Febriza, "Komisi I juga telah berkonsultasi ke DPRD DKI Jakarta, mereka tidak ada permasalahan seperti di daerah yang bergejolak, karena di DKI Jakarta tenaga honorernya telah di atur di Peraturan Gubernur, dimana bagi tenaga honorer yang tidak masuk di PPPK tetap bekerja seperti biasa. Kemenpanrb mengatur, tahun depan tidak ada lagi tenaga honor itu yang menjadi polemik. "Kami ingin melindungi tenaga honorer yang ada di Kabupaten Bengkalis bagaimana tenaga honor yang tidak bisa ikut dan yang tidak lulus P3K tetap dipekerjakan seperti biasanya. jangan sampai di berhentikan yang nantinya akan menambah beban daerah dengan bertambahnya pengangguran. karena kita juga tau kalau daerah masih mampu untuk membiayai tenaga honor yang masih bekerja sampai saat ini & tentunya ini akan kami perkuat dengan menyampaikan ke Bupati agar segera dibuatkan Perbupnya untuk melindungi tenaga honor yang tidak bisa ikut dan lulus P3K,"jelas Febriza Luwu. Hal senada turut disampaikan oleh Sekretaris Komisi IV Irmi Syakip Arsalan, "Yang menjadi persoalan dalam pendataan tenaga honorer adalah sejak tahun 2017 banyak tenaga honorer yang termasuk belanja barang dan jasa, setelah adanya perubahan nomenklatur belanja melalui Peraturan Menteri Dalam Negeri tentang Pengelolaan Keuangan Daerah. sementara persyaratan pendataan melalui belanja pegawai. sehinga belanja Pegawai hanya untuk kita, mulai 2017 tenaga honor itu masuk belanja barang dan jasa. di Permendagri pada tahun 2017 mengalami perubahan nomenklatur, belanja pegawai hanya khusus ASN saja. "Sebagai Gambaran, di dinas Kesehatan, Puskesmas dan RSUD, kami memiliki tenaga kesehatan yang terdata 1045 orang, yang masuk dalam pendataan dalam katagori belanja pegawai hanya 350, artinya masih ada 695 orang tenaga yang tidak dapat diusulkan setelah 2017. hal tersebut terjadi karena tenaga honorer tersebut pembiayaan gajinya masuk dalam belanja barang dan jasa. jika pada per November 2023 mereka di berhentikan, maka banyak pelayan Faskes kami yang ada di Kabupaten akan mengalami kelumpuhan pelayanan di bidang Kesehatan,"tutup Irmi Syakip. Yoga menjelaskan, "kami sudah tiga kali bersurat ke daerah maupun pusat dan sudah di kirimkan ke BKPP salah satu nya di Kabupaten Bengkalis. di surat tersebut, tanggal 30 September 2022 bahwasannya pendataan ini bukan untuk mengangkat tenaga Non ASN menjadi ASN. Pemerintah sudah mengeluarkan PP yang disahkan DPR RI, bahwa status ASN ada dua yaitu PNS dan PPPK. "Kita ingin mengetahui berapa jumlah tenaga Non ASN di daerah atau pusat, penyebarannya di mana aja, jabatannya apa, masa kerjanya berapa tahun, kemudian di gaji berapa,"terang Yoga. "Udah di tegaskan, tidak ada jaminan akan di angkat, karena cuma bersifat pendataan. di data maupun tidak di data, keduanya tidak kami angkat secara langsung menjadi ASN karena sudah di jelaskan dalam Undang Undang ASN, untuk menjadi ASN harus melalui seleksi. Tambah Yoga, Pendataan ini untuk mengetahui peta Non ASN itu berapa, sehingga kedepan ketika kami membuat kebijakan, kira-kira kedepan kearah mana, mana akan di dahulukan. kebijakan kami Nasional dan Instansional. contoh Instansional kita mempertimbangkan usulan dari instansi pembina guru yang mengusulkan Mendikbud, sedangkan Nakes yang mengusulkan Kemenkes. misalkan nakes faskes dihapus maka akan lumpuh pelayanan. Guru dan Nakes ini di prioritaskan. pelayanan dasar pasti dipikirkan instansi pembina, dan mereka akan pasang garda paling depan,"ungkapnya. Evan menambahkan, tenaga honorer yang tidak masuk pendataan akan dikembalikan oleh BKN dan ini masih menutup untuk bisa masuk, nanti keputusannya kita perpanjang atau kita perbolehkan instansi untuk inject excel ke BKN memalui email dengan data terpisah. surat pengantar sudah di kirim, nanti tim kami akan menganalisa,"jelasnya. Dalam wawancara singkat oleh TIM Humas DPRD, Febriza Luwu menyebutkan, tidak ada jaminan pengangkatan tenaga honorer menjadi ASN tetapi ini adalah data base untuk penertiban administrasi program Kemenpan. untuk kedepannya terkait permasalahan di daerah mengenai yang tidak masuk proses input data itu juga tidak ada jaminan dan di tahun berikutnya akan ada pendataan- pendataan berkelanjutan dari tahun 2022 ini. bagi yang gajinya dibayar melalui belanja barang dan jasa agar tetap dimasukkan datanya melalui BKPP dengan mengirimkan data tersebut melalui email ke link Menpan RB seperti yang disebut oleh Yoga dari Deputi, mereka akan menganalisa data tersebut. "Semoga melalui konsultasi gabungan dari Komisi 1 dan 4 ini akan membawa angin segar bagi para honor. kita berharap Kemenpan RB memberikan kebijakan bagi daerah yang disesuaikan dengan kebutuhan daerah pula. Sekretaris Komisi IV Irmi Syakip Arsalan dalam wawancara singkatnya menyampaikan, untuk tenaga Nakes dan Guru seperti yang di jelaskan tadi, yang belum masuk pendataan akan mendapat perhatian khusus dari Kementerian masing-masing. Politique C’est une question presque taboue quel est le salaire des députés ? Dans de nombreux pays du continent, l’information n’est pas publique. Jeune Afrique » a mené l’enquête, et les résultats révèlent des disparités parfois abyssales. Réservé aux abonnés 27 septembre 2021 à 1530 Mis à jour le 17 novembre 2021 à 1115 Vingt-huit fois plus que le salaire moyen. C’est, en moyenne, la différence entre ce que gagnent les députés africains – sans compter leurs éventuelles primes – et le revenu de leurs administrés. Mais ce chiffre cache de très fortes disparités celles relatives aux salaires des élus des différents pays, et celles qui existent entre le niveau de vie des députés et celui des populations qu’ils représentent. Un député nigérian touche plus du double du salaire d’un député européen Au Maghreb, l’indemnité de base de celles et ceux qui siègent au Parlement avoisine 1 900 dollars par mois ; en Tunisie, cependant, il n’est que de 780 dollars. En Afrique centrale, les élus peuvent gagner jusqu’à 120 fois plus que leurs administrés, comme c’est le cas en RDC. Le record est détenu par les élus nigérians, qui touchent pas moins de 9,3 millions de nairas par mois, plus de 22 000 dollars. C’est plus du double du salaire d’un député européen, qui perçoit 8 995 euros 10 500 dollars, soit 3,5 fois le revenu moyen dans la zone, ce qui représente trois fois plus que le revenu mensuel moyen en France et treize fois plus que celui évalué en Bulgarie. 5 700 dollars par mois Des chiffres qui sont à mettre en perspective, en outre, avec les primes et allocations dont bénéficient les élus. Qu’il s’agisse d’espèces sonnantes et trébuchantes ou d’avantages en nature, elles peuvent parfois doubler les revenus perçus, voire plus. Dans le cas du Gabon, par exemple, les primes – fonds de souveraineté, frais de compte-rendu et de transport – font déjà grimper le salaire à environ 5 700 dollars par mois. Et ce, sans compter les frais de session 70 dollars par jour et les avantages connexes, dont le passeport diplomatique, le véhicule de fonction, l’accès à l’assurance maladie et à un régime de retraite spécial. À Lire Algérie les députés sont-ils vraiment trop payés ? En RDC, où les députés sont payés 5 500 dollars par mois alors que le revenu moyen brut mensuel est de 47 dollars, la récente polémique sur les 500 jeeps » mises à leur disposition a, sans surprise, créé la polémique. Il n’existe actuellement aucune base de données sur les salaires des députés africains. Pour établir le comparatif ci-dessous, les journalistes de Jeune Afrique et de The Africa Report ont mené l’enquête auprès des élus, de la Côte d’Ivoire au Mali en passant par le Nigeria, la RDC et le Maroc. Voici la revue des revenus, pays par pays DéputésV8_Plan de travail 1 Le devoir d'informer, la liberté d'écrire. Jeune Afrique est un média indépendant depuis 1960. Nous croyons qu'une information libre et de qualité est indispensable à la vie démocratique. Nous sommes experts de nos sujets et proposons une information vérifiée et traitée en profondeur. Choisissez la référence de l'information politique du continent.​ BENGKALIS – Komisi Pemilihan Umum Daerah KPUD Kabupaten Bengkalis, Sabtu, 9 Agustus 2019 mengelar rapat pleno terbuka penetapan perolehan kursi dan anggota DPRD Kabupaten Bengkalis pada pemilihan umum tahun 2019. Rapat yang langsung dipimpin Ketua KPUD Fadhillah Al Mausuly dan dihadiri Bupati Bengkalis yang diwakili Asisten Pemerintahan Hj Umi Kalsum dan Kapolres Bengkalis AKBP Yusup Rahmanto tersebut, ditaja di gedung daerah Datuk Laksamana Raja Dilaut. Pada pleno tersebut ditetapkan 45 orang terpilih anggota DPRD Kabupaten Bengkalis periode 2019-2024. Sesuai hasil pleno tersebut, Partai Keadilan Sejahtera PKS dan Partai Golkar, sama-sama memperoleh 8 kursi. Namun PKS unggul dalam total perolehan suara. Keunggulan ini menjadikan salah satu dari 8 anggota DPRD terpilih dari PKS tersebut akan menjadi Ketua DPRD Kabupaten Bengkalis 2019-2024. Selanjutnya, Partai Amanat Nasional PAN, Partai Demokrasi Indonesia PDI Perjuangan dan Partai Gerakan Indonesia Raya Gerindra, sama-sama mendapat 6 kursi. Lalu, Partai Kebangkitan Bangsa PKB dan Partai Nasional Demokrat NasDem sama-sama 3 kursi. Selanjutnya, Partai Demokrat 2 kursi. Sedangkan Partai Persatuan Pembangunan PPP, Perindo, dan Partai Bulan Bintang PBB sama-sama hanya 1 kursi. Berdasarkan Daerah Pemilihan Dapil, 45 calon anggota DPRD terpilih tersebut berasal dari Dapil Bengkalis I Kecamatan Bengkalis dan Bantan 10 orang. Lalu, Dapil Bengkalis II Bukit Batu, Siak Kecil dan Bandar Laksamana 5 orang dan Dapil Bengkalis III Pinggir dan Talang Muandau 7 orang. Selanjut, Dapil Bengkalis IV Mandau 12 orang, Dapil Bengkalis V Bathin Solapan 7 orang dan Dapil Bengkalis VI Rupat dan Rupat Utara 4 orang. Adapun nama-nama 45 anggota DPRD terpilih berdasarkan partai politik pengusung dan Dapil-nya adalah Partai Keadilan Sejahtera, terdiri dari Hj. Zahraini, B, MP Dapil I, Susianto DR III, H. Khairul Umam, Lc. IV, Giyatno IV, H. Abi Bahrun, IV, H. Adri, SE IV, Ir. H. Samsu Dalimunthe V dan Sanusi, SH, MH V Partai Golkar, yaitu Ruby Handoko alias Akok Dapil I, Rahmah Yenny, II, Al-Azmi III, Asmara III, Septian Nugraha IV, Syafroni Untung, SH IV, Hendri, V dan Syahrial, ST VI Partai Amanat Nasional, terdiri dari H. Zamzami, SH Dapil I, Zuhandi, II, Indrawansyah IV, Syaiful Ardi IV, Rianto V dan H. Abdul Kadir, VI. PDI Perjuangan, yaitu Sofyan, Dapil I, Febriza Luwu II, Erwan, III, Kaderismanto IV, Simon Lumban Gaol V dan Ferry Situmeang, SE VI. Partai Gerindra, terdiri dari Drs. H. Arianto, MP Dapil I, Drs. Elman II, Adihan, SH III, Andi Fahlevi IV, Romel Sinalsal, SP V dan Zamzami Harun, ST VI. Partai NasDem, yakni Askori, Dapil I, Mustar J Ambarita III, dan Rosmawati Sinambela, IV. Partai Kebangkitan Bangsa, terdiri dari Irmi Syakip Arsalan, Dapil I, Sugianto II dan Surya Budiman V. Partai Demokrat, yakni dr. Morison Bationg Sihite Dapil I dan Nanang Haryanto, IV. Sedangkan untuk Partai Persatuan Pembangunan yakni Firman Dapil I. Sementara Partai Bulan Bintan H. Mawardi Dapil I. Dan terakhir dari Partai Perindo, yakni Laurensius Tampubolon Dapil III DISKOMINFOTIK Home Profil Data Statistik Sektoral SKPD/Instansi Monografi Publikasi Kontak Kami Faq Login SKPD No. Komisi 2017 2019 L P J L P J 1 2 3 4 5 6 7 8 1 Komisi I 8 2 10 8 1 9 2 Komisi II 13 - 13 12 - 12 3 Komisi III 7 1 8 7 1 8 4 Komisi IV 9 1 10 10 2 12 Jumlah 37 4 41 37 4 41 Sumber Sekretariat DPRD Kabupaten Bengkalis Download Dokumen Le Togo traverse une crise, même si les autorités s’échinent à ne pas le reconnaître. Mais est-ce pour autant que les salaires ne doivent plus connaître de tendance haussière ? Alors que la pauvreté et la misère sont ambiantes dans tous les coins et recoins du Togo, les fainéants députés togolais s’octroient une indécente augmentation de 85% de salaire. Qu’ils soient du pouvoir ou de l’ opposition », ces élus» du peuple ne sont à l’Assemblée nationale que pour se goinfrer et faire des affaires au détriment de leur employeur, le peuple togolais. Que vous voulez-vous, les autres branches de l’Exécutif du pays sont aussi pourries La présidence est un marigot de crocodiles dont le gros est Faure Gnassingbé lui-même. La justice, elle, est à vendre au prix offrant. Pouaf ! Quel pays ! Caricature Donisen Donald / Liberté Les députés ont vu leurs émoluments revus à la hausse depuis fin février, ce qui peut paraître incompréhensible pour certains. Mais ont-ils des raisons de se servir », étant donné qu’ils sont ceux qui votent les budgets ? Sous quels angles doit-on analyser cette augmentation de salaires et que doit attendre d’eux le peuple qui les a élus pour défendre ses intérêts? 85% d’augmentation de salaire, tel est le constat établi en consultant les indemnités des députés depuis fin février 2016. Désormais, tous ceux qui percevaient FCFA d’indemnités, touchent FCFA. Est-ce trop ? Est-ce trop peu ? Le constat est là. L’augmentation doit paraître démesurée ; seulement, il doit arriver un temps où les textes de loi qui existent, soient respectés. En effet, la loi organique n° 96-001/PR du 2 février 1996 composée de dix-sept articles regroupés en quatre chapitres et accompagnée d’une annexe de sept articles disponible dans le Journal Officiel du 9 février 1996 a consacré la revalorisation des émoluments des représentants du peuple, et si cette année il a été décidé que cette loi soit mise en application, il ne doit pas y avoir de quoi déclencher un tsunami dans le pays. Car pour ceux qui l’ignorent, depuis 2008, la situation salariale des fonctionnaires, puis des ministres a été revue. Mais aucun bruit n’a été fait autour de la chose. Les députés pour qui la même mesure est prévue devront-ils s’en passer, eux qui représentent le peuple? Ils ont juste, comme le prescrivent les textes, aligné leurs indemnités, conformément à la loi qui prévoit également qu’ils bénéficient de privilèges. Mais savez-vous par exemple que les députés voyagent en classe économique alors que la loi prévoit qu’ils soient en première classe et en classe affaires, du fait des desiderata du ministre Ayassor qui, lui, voyage toujours en première classe et n’hésiterait pas à rentrer dans le cockpit des pilotes si son rang » le lui permettait? Pour avoir approché certains élus, on a appris que dans l’orthodoxie fonctionnelle de l’Assemblée nationale, l’institution devrait disposer d’un budget autonome de fonctionnement, ce qui permettrait d’en user selon son règlement financier. Mais du fait des coupes drastiques et injustifiées du ministre Adji Otèth Ayassor – à qui, selon des informations, la présidente d’un groupe parlementaire aurait dit, lors du dernier collectif budgétaire, qu’à l’allure où il dit gérer les finances du pays, viendra un moment où même les élus de son propre parti rejetteront des textes de loi qu’il leur présentera-, le règlement financier de l’Assemblée nationale n’est pas respecté. A en croire un élu du peuple, cette situation aurait été évoquée dans les instances parlementaires supérieures comme l’Assemblée parlementaire francophone APF et l’Union interparlementaire UIP au sein desquelles le Togo devient la risée des autres. A titre d’exemples, il nous a été rapporté par des députés dépités par l’attitude du ministre à la rigueur sélective qu’au Gabon, non seulement les députés perçoivent au moins 4 millions d’indemnités, mais en plus, disposent annuellement de 10 millions de FCFA pour exécuter de mini projets dans leurs localités d’origine. Au Ghana à côté, c’est dollars annuel. Mais les députés togolais reçoivent une dotation de… FCFA par an pour réaliser des mini-projets! Le code financier a également prévu que les groupes parlementaires disposent d’assistant parlementaire rétribué pas l’Assemblée nationale ; mais à ce jour, ce sont des députés qui déboursent personnellement pour payer les émoluments des assistants. Autre réalité, les véhicules de fonction ne sont pas un droit. Seuls les membres du bureau de l’Assemblée nationale, les présidents de groupes parlementaires et les membres des commissions y ont droit. Conclusion, il existe au Togo des députés qui se rendent à l’Assemblée nationale juchés sur des motos. Parce que le prêt de 4 millions à eux alloués pour leur installation, ne peut pas tout couvrir, encore qu’il est remboursable durant la mandature. Un député nous a confié que rien que pour la dernière rentrée universitaire, il a reçu 63 sollicitations pour les frais de scolarité. Voilà ce que vivraient des députés. Alors, 85% ou 100% d’augmentation, du moment que la loi le prévoit, on doit s’y plier. Le respect de la loi qu’on s’est prescrite est liberté ». Mais la fonction de député a des exigences, pas seulement des privilèges, messieurs les députés ! Si les élus du peuple sont prompts à relever les restrictions dont ils sont l’objet pour justifier cette augmentation, le peuple qui les a élus est loin d’être satisfait par le volume de travail qu’ils produisent, à commencer par l’omerta sur les débats à l’Assemblée nationale. Aucun député n’est élu par le pouvoir exécutif, mais ceux du parti au pouvoir semblent tétanisés lorsqu’il s’agit d’appeler un chat un chat alors qu’il est écrit que tout mandat impératif est nul. Ceux de l’opposition, lorsqu’il s’agit des questions politiques, étaient prompts à convoquer des conférences de presse, mais depuis les révélations qui se font dans les médias sur la gestion économique approximative des ressources du pays, pas une seule conférence de presse pour prendre le peuple à témoin du refus d’un ministre à venir répondre de ses actes. Le dernier crime économique concerne la Compagnie énergie électrique du Togo Ceet que l’ancienne direction a contribué à mettre à genou financièrement. Des ministres ont justifié les retards des travaux de sociétés par des intempéries. Quel député ou groupe parlementaire a communiqué sur la démarche entreprise pour connaître la vérité ? L’article 74 de la Constitution rappelle au président de la République de faire annuellement l’état de la nation au peuple. Quel député ou groupe parlementaire a-t-il une fois interpellé le président de la République via celui de l’Assemblée sur cet état de chose, et quelle a été sa réponse ? En supposant que tous les 91 députés soient au même niveau d’indemnité, ce qui n’est pas vrai, ce sont au plus bas mot 655,2 millions de FCFA qui s’ajouteront aux émoluments des élus du peuple. Un effort plus conséquent leur est demandé pour une meilleure défense des intérêts communs et une reddition plus visible. Autrement, la fin de l’actuelle législature est pour 2018, et il reviendra aux citoyens de sanctionner tel député et de renouveler sa confiance à tel autre. Et c’est seulement à l’œuvre qu’on reconnaîtra l’effort produit par chacun des députés et chaque groupe parlementaire. Si pour leur augmentation d’indemnités, ils ont pu s’entendre pour faire passer la loi, on veut croire que dans l’intérêt supérieur du peuple togolais et non l’intérêt partisan d’un parti, ils prendront de la hauteur pour se départir de considérations futiles pour arrimer le pays à la locomotive du progrès. Source [05/04/2016] Abbé Faria, Liberté BENGKALIS, HUMAS – Sesuai dengan Keputusan Gubernur Riau Nomor KPPS 977/VIII/2019 tanggal 27 Agustus 2019 tentang Peresmian Pemberhentian Anggota DPRD Kabupaten Bengkalis masa jabatan 2014-2019 dan Peresmian Pengangkatan Anggota DPRD Kabupaten Bengkalis masa jabatan 2019-2024, sehingga ditetapkan nama-nama Anggota DPRD Kabupaten Bengkalis masa jabatan 2019-2024. Surat Keputusan tersebut dibacakan oleh Ketua DPRD Bengkalis masa jabatan 2014-2019 H Abdul Kadir di Gedung Cikpuan Bengkalis. Ketua Sementara DPRD Bengkalis dari Partai Keadilan Sejahtera H. Khairul Umam, Lc. dan Wakil Ketua Sementara dari Partai Golongan Karya GOLKAR Syahrial, ST. Adapun nama-nama Anggota DPRD Bengkalis masa jabatan 2019-2024 sebagai berikut;Partai Kebangkitan Bangsa PKB, Irmi Syakip Arsalan, Sugianto, Surya Budiman, Partai Gerindra, Drs. H. Arianto, MP, Adihan, SH, Andi Fahlevi, Romel Sinalsal, SP, Zamzami Harun, ST. Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan PDIP, Sofyan, Febriza Luwu, Erwan, Kaderismanto, Simon Lumban Gaol, Ferry Situmeang, SE. Partai Golongan Karya GOLKAR, Ruby Handoko Alias Akok, Rahmah Yenny, . Al – Azmi, Asmara, Septian Nugraha, Syafroni Untung, SH, Hendri, Syahrial, ST. Partai Nasdem, Askori, Mustar J Ambarita, Rosmawati Sinambela, Keadilan Sejahtera PKS, Hj. Zahraini, B, MP, Susianto Sr, H. Khairul Umam, Lc. Giyatno, H. Abi Bahrun, H. Adri, SE, Ir. H. Samsu Dalimunthe Samda, Sanusi, SH, MH. Partai Persatuan Pembangunan PPP, Firman, Partai Amanat Nasional PAN, H. Zamzami, SH, Zuhandi, Indrawansyah, Syaiful Ardi, Rianto, H. Abdul Kadir, Partai Demokrat, Dr. Morison Bationg Sihite, Nanang Haryanto, Partai Bulan Bintang PBB, H. Mawardi, Partai Perindo, Laurensius Tampubolon.

gaji anggota dprd kabupaten bengkalis