Menanggapihal itu, di dalam RDP, Ketua Komisi II, Butong mengatakan, pihaknya akan berupaya menganggarkan bantuan terhadap biaya hidup anak terlantar yang ada pada seluruh Panti Asuhan di Kota Medan di P-APBD 2021. Nantinya seluruh panti asuhan diminta untuk menyiapkan data akurat tentang seluruh anak asuh yang ada di panti tersebut.
Tertularnyaanak asuh panti diduga dari acara buka bersama yang digelar remaja masjid 10 anak asuh Panti Asuhan Muhammadiyah Positif Covid-19 | Republika Online REPUBLIKA.ID
PantiAsuhan Yatim Piatu dan Pondok Pesantren Al Qur'an "Nurul Jannah" adalah dua lembaga sosial di kudus yang berada di bawah naungan YAYASAN CHODIJAH AL DJUFRI yang berdiri sejak tahun 2005. Panti Asuhan Yatim Piatu "Nurul Jannah" merupakan Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak yang menampung anak Yatim, Piatu, Yatim-Piatu maupun Dhu
Sepertiyang telah dijelaskan sebelumnya jika kini banyak panti asuhan di Bandung yang bisa mengadopsi anak yatim. Namun, kebanyakan Panti Asuhan ini akan menerapkan proses tertentu dalam adopsi anak. Hal ini bertujuan untuk mementingkan orientasi kebahagiaan anak. Sesuai dengan Undang-undang perlindungan Anak pasal 39 bahwa pengangkatan anak
24. Panti Asuhan . 2.4.1 Pengertian Panti Asuhan Di dalam pasal 21 dijelaskan bahwa Panti Asuhan adalah sebuah yayasan sosial badan hukum yang terdiri atas kekayaan yang dipisahkan dan diperuntukkan untuk mencapai tujuan tertentu di bidang sosial, keagamaan, dan kemanusiaan yang tidak mempunyai anggota.
Skripsiyang berjudul "Analisis Pengelolaan Bisnis Aqiqah Untuk Operasional Panti Asuhan Dan Pemberdayaan Warga Sekitar Panti Asuhan Az-Zahara Surabaya" ini menganalis tentang Pengelolaan Bisnis Aqiqah Dalam Kaitannya Untuk Membayar Biaya Operasional Panti dan Memberdayakan Warga Sekitar Panti Suhan Az-Zahara Surabaya. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui dan menganalisis Pengelolaan
. › Panti asuhan selama ini dipandang masyarakat hanya menampung anak-anak yatim piatu. Kenyataannya, panti asuhan justru menjadi tempat yang dituju anak-anak dari keluarga miskin, sebagai jalan mendapatkan pendidikan. KOMPAS/RIZA FATHONIAnak-anak penghuni Panti Asuhan Kampung Melayu, Jakarta, menyelesaikan pekerjaan sehari-hari, Minggu 30/10/2022. Panti asuhan tersebut dihuni oleh 22 anak penghuni tetap dan menanggung biaya sekolah 52 anak dari sekitar kawasan panti. Panti asuhan menjadi tempat untuk mengasah kemandirian anak-anak yatim piatu dan kaum duafa. JAKARTA, KOMPAS — Panti asuhan tidak hanya menjadi rumah dan tempat berlindung bagi anak-anak yang tidak memiliki atau kehilangan orangtuanya, tetapi juga menjadi tumpuan bagi anak-anak dari keluarga miskin dan keluarga yang bermasalah. Selain mendapat pengasuhan alternatif di panti asuhan, mereka juga mengenyam pendidikan dari tingkat dasar hingga perguruan anak-anak di panti asuhan atau lembaga kesejahteraan sosial anak LKSA masih memiliki orangtua atau keluarga. Hanya sebagian kecil yang tidak memiliki orangtua yatim piatu, yatim, atau piatu. Mereka sengaja dibawa orangtuanya ke panti asuhan agar mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan pendidikan. Umumnya mereka datang dari keluarga miskin dari perdesaan dan daerah-daerah pelosok di Tanah Air. Sebagian sudah putus sekolah. Berdasarkan data Profil Anak Indonesia tahun 2021, sebanyak 4,76 persen dari anak Indonesia tinggal bersama keluarga lain dan sebagian berada di panti asuhan, yang diperkirakan jumlahnya sekitar panti asuhan. Mereka tinggal di panti asuhan yang dikelola yayasan, keluarga, atau menyelesaikan pendidikan, terutama di tingkat sekolah menengah atas SMA, sebagian besar anak-anak panti asuhan kembali pada orangtua dan hidup mandiri di tengah masyarakat. Namun, ada juga yang tetap tinggal di panti asuhan menjadi pengurus atau membantu pengelola contoh, Panti Asuhan Putra Nusa Tanah Abang, Jakarta Pusat, DKI Jakarta, yang berdiri sejak tahun 1958. Sebagian besar anak-anak di panti asuhan itu adalah anak-anak dari keluarga tidak mampu secara ekonomi yang berasal dari luar Jakarta. Mereka mengetahui keberadaan panti asuhan tersebut dari tetangga, rekomendasi alumni dari panti, atau mencari lewat internet.”Pekerjaan orangtua anak-anak ini macam-macam, ada yang sopir, pembantu rumah tangga, atau pengasuh anak. Kemarin ada orangtua salah satu anak yang bekerja sebagai pengasuh anak, gajinya hanya sekitar satu juta rupiah, tidak mencukupi untuk biaya sekolah satu anak. Padahal, anaknya tidak hanya satu orang,” ujar Upik, pengelola Panti Asuhan Putra Nusa, Rabu 26/10/2022 pekan Lampung, Panti Asuhan Pelita Harapan Bangsa saat ini menampung 50 anak dari keluarga miskin. Sebagian masih memiliki orangtua lengkap. Ada juga yang dititipkan karena menjadi korban perceraian kedua orangtuanya, atau orangtuanya masih hidup tetapi tidak diketahui ini ada 125 LKSA di Bandar Lampung. Namun, baru sekitar 50 LKSA yang mengurus perizinan. ”Selama ini sosialisasi dan pengawasan pada LKSA yang belum mempunyai legalitas jarang dilakukan. Selain itu, tidak ada imbal balik dari pemerintah untuk LKSA yang telah memenuhi syarat dan legalitas,” kata Amir, Ketua Yayasan Panti Asuhan Pelita Harapan Bangsa, yang juga Ketua Forum Daerah LKSA Lampung, Jumat 28/10/2022.Baca juga Polisi Diminta Segera Usut Kekerasan Seksual di Panti AsuhanDi Makassar, saat ini Panti Asuhan Miftahul Khair yang berdiri sejak tahun 1971 menampung sekitar 40 anak, umumnya berasal dari Manggarai Barat. Sebagian besar masih memiliki orangtua lengkap. Awalnya mereka hanya menerima anak-anak yang benar-benar tak memiliki orangtua, yang berasal dari Sulawesi Selatan atau Sulawesi setelah itu, dinas sosial menyatakan bahwa tidak harus yatim piatu, anak-anak telantar dan miskin juga bisa ditampung di panti tersebut. ”Bahkan, kami juga menampung anak-anak korban kekerasan atau dari keluarga broken home,” ujar A Halmiyah, pengelola panti asuhan anak yang ditampung di panti ini disekolahkan dengan biaya dari dana bantuan operasional sekolah BOS. Untuk biaya operasional, selama ini panti asuhan mengandalkan bantuan donatur, baik secara pribadi maupun dari berbagai yayasan. Namun, semenjak pandemi Covid-19, beberapa panti kesulitan dana menyusul berkurangnya donatur. Mereka harus mencari cara untuk memenuhi kebutuhan panti Palembang, Sumatera Selatan, aliran donasi dari para donatur Panti Asuhan Cahaya Ummi di Jalan Seduduk Putih, Kecamatan Ilir Timur II, sejak pandemi mendera kian seret. Pengelola panti asuhan harus mencari cara agar mampu menghidupi ke-20 anak asuhnya. Agar anak asuh dapat melanjutkan hidup, ia membuka usaha jual beli celengan hingga mengefisienkan pengeluaran. ”Terkadang untuk mencukupi kebutuhan, kami makan nasi dengan garam,” ujar Nirwana, pemilik Panti Asuhan Cahaya panti asuhan lain, masa paceklik ini juga dirasakan sejak pandemi mulai melanda. Bantuan dari pemerintah tidak lagi datang. Padahal, sebelum pandemi, pemerintah selalu memberikan bantuan tahunan. ”Biasanya kami mendapatkan dana Rp 13 juta-Rp 18 juta per tahun dari pemerintah," kata pemda harus memastikan ada berapa banyak LKSA di lokasinya. Ini penting sekali buat masa depan anak dan untuk memastikan LKSA-LKSA yang tidak sesuai regulasi agar tidak diberi izin memberi layanan senior Pusat Kajian dan Advokasi Perlindungan dan Kualitas Hidup Anak Puskapa Universitas Indonesia, Ni Luh Putu Maitra Agastya, mengatakan, pengasuhan di LKSA dapat memengaruhi pertumbuhan anak. Sejumlah studi mencatat bahwa perkembangan fisik dan psikologis anak berusia 0-5 tahun yang diasuh di LKSA lebih rendah dibandingkan anak yang diasuh keluarga.”Menurut penelitian kami di 2015 terhadap 600 anak, hampir 30 persen di antaranya menyatakan kesepian. Mereka juga kangen keluarga dan merasa ada di lingkungan asing,” kata Agastya, Minggu 30/10/2022.Sebagian anak pun merasa malu karena diasuh di LKSA diasosiasikan dengan kemiskinan dan keluarga yang tidak lengkap. Hal ini membuat anak tidak percaya diri. Kesepian ditambah rasa rendah diri dikhawatirkan menghambat anak yang sudah dewasa untuk kembali ke masyarakat. ”Di sisi lain, tidak semua panti asuhan menjalankan standar pengasuhan yang baik sehingga sangat rentan terjadi kekerasan dari pengasuh dan sesama anak asuh,” sambung PURNA JATIMahnidar tiga dari kiri, pengelola Panti Asuhan Anak Harapan Karya, Palembang, bersama dengan ketujuh anak panti, Kamis 27/10/2022. Dia berupaya keras agar anak asuhnya bisa terus bersekolah walau dana kantongi izinBanyak panti asuhan menghadapi berbagai tantangan, mulai dari dana hingga jumlah pengasuh yang terbatas. Bahkan, sejumlah panti asuhan berdiri tanpa mengantongi izin dan standar nasional pengasuhan anak sebagaimana yang diatur dalam peraturan data Kementerian Sosial Kemensos, ada sekitar LKSA di Indonesia pada 2021. Sekitar di antaranya belum mengantongi izin dari dinas sosial dan 154 lainnya sedang melengkapi syarat perizinan. Selain itu, belum semua LKSA berhasil didata oleh Direktur Rehabilitasi Sosial Anak Kemensos Kanya Eka Santi, ada kemungkinan sejumlah LKSA di masyarakat luput didata. Hal itu bisa terjadi karena ketidaktahuan pengelola LKSA untuk mendaftarkan diri. Salah satu kendalanya adalah kondisi geografis Indonesia.”Seharusnya memang terdata. Setiap pemda harus memastikan ada berapa banyak LKSA di lokasinya. Ini penting sekali buat masa depan anak dan untuk memastikan LKSA-LKSA yang tidak sesuai regulasi agar tidak diberi izin memberi layanan anak,” kata pendataan, LKSA juga perlu diakreditasi agar kualitas pelayanannya mencapai standar minimal. Badan Akreditasi Lembaga Kesejahteraan Sosial BALKS mencatat ada lembaga kesejahteraan sosial yang terakreditasi pada 2021. Sebanyak di antaranya adalah mengatakan, sedapat mungkin anak diasuh oleh keluarga inti atau keluarga besar. Jika tidak ada keluarga yang bisa mengasuh, anak dapat diasuh oleh keluarga pengganti foster care, wali, atau diangkat anak oleh pihak lain. ”LKSA itu adalah sumber daya pengasuhan terakhir. LKSA seharusnya juga memastikan anak tidak terpisah dari keluarganya,” juga Bruder Angelo, Terdakwa Pelaku Kekerasan Seksual di Panti Asuhan Depok, Ajukan KasasiWakil Ketua BALKS Naswardi mengatakan, masih ada LKSA yang tidak terakreditasi karena belum mencapai kualitas standar minimal pemerintah. Ada sembilan aspek standar yang mesti dipenuhi LKSA, antara lain program, manajemen organisasi, sumber daya manusia, sarana dan prasarana, serta hasil pelayanan.”Tujuan akreditasi adalah untuk mengukur kualitas pemenuhan standar pelayanan minimal serta mencegah terjadinya malapraktik di lembaga kesejahteraan sosial,” kata pengawasan dan pembinaan LKSA merupakan kewenangan pemerintah pusat dan daerah. Jika melakukan pelanggaran, LKSA terkait akan dikenai sanksi, seperti pencabutan sertifikat mencontohkan, pada tahun ini pemerintah mendapati LKSA di Medan dan Manado melanggar aturan. Dinas sosial setempat diminta untuk membubarkan LKSA itu. Anak-anak yang tinggal di panti-panti tersebut dipindahkan ke unit pelaksana teknis Kemensos di setiap daerah atau dipertemukan kembali dengan pantauan Kompas, selama ini juga terjadi sejumlah pelanggaran di panti asuhan. Pada September 2022, misalnya, Pemerintah Kabupaten Ketapang mencabut izin dan menutup LKSA Yayasan Al-Akbar karena kasus dugaan kekerasan seksual pada anak asuh oleh pengurus panti tersebut. Di Kulon Progo, DI Yogyakarta, beberapa anak di sebuah panti asuhan diduga mengalami kekerasan seksual yang dilakukan MT 46, pengurus panti asuhan sejak tahun 2020 hingga 2022. Pada tahun 2014, pemerintah juga menutup Panti Asuhan Samuel di Gading Serpong, Tangerang, karena dugaan sejumlah kasus penelantaran anak-anak yang tinggal di FATHONIAnak-anak penghuni Panti Asuhan Tebet, Jakarta, memanfaatkan waktu libur dengan bermain congklak, Minggu 30/10/2022. Panti tersebut dihuni oleh 45 anak. Sejumlah anak terpaksa tinggal di panti asuhan karena orangtua menyerahkan anaknya pada panti akibat ketidakmampuan membiayai hidup. Dorong pengawasanAnggota Komisi Perlindungan Anak Indonesia KPAI, Jasra Putra, menegaskan, pengawasan terhadap LKSA penting untuk menghindari praktik buruk pengasuhan anak di LKSA. Hingga kini belum ada data yang mencatat kasus buruk pengasuhan anak di LKSA. Umumnya kasus tersebut baru tercatat setelah masa asuh anak di LKSA selesai atau jika masyarakat melapor.”Kita juga perlu memastikan pengelola lembaga punya kredibilitas serta sumber daya manusia yang kuat untuk menjalankan pengasuhan. Pemerintah pusat dan daerah perlu mengawasi lembaga yang terdaftar maupun yang sudah ada tapi belum terdaftar,” kata terhadap panti asuhan sangat penting agar bisa memastikan perlindungan dan pemenuhan hak-hak anak dilakukan di setiap panti asuhan. Tanpa pengawasan, anak-anak di panti asuhan rentan mengalami kekerasan fisik, psikis, seksual, dan eksploitasi ekonomi serta luput dari pendataan administrasi kependudukan. Bahkan, anak-anak itu rentan menjadi korban perdagangan juga Jangan Abaikan Hak Anak-anak yang Tidak Punya NIKDeputi Perlindungan Khusus Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak PPPA Nahar mengungkapkan, dari hasil pantauan Kementerian PPPA saat evaluasi kabupaten/kota layak anak, di lapangan masih ditemukan terjadinya kekerasan anak di panti asuhan, khususnya dalam proses pendisiplinan anak yang masih berbasis pada seksual di panti asuhan juga harus menjadi perhatian karena Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual TPKS menempatkan panti asuhan sebagai salah satu sasaran pencegahan TPKS. ”Hal ini penting karena masih ditemukan pelaku kekerasan terhadap anak asuh adalah pegawai, pengurus, atau petugas panti,” ujar data yang tercatat pada Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak Simfoni PPA hingga Juli 2022 tergambar bahwa kasus kekerasan ada di lembaga-lembaga pendidikan, sekolah, rumah tangga, dan tempat lain, seperti panti asuhan. REN/ESA/COK/VIO/SKA/RAM/XTI/EGI/Z02/Z03/Z14/SON EditorALOYSIUS BUDI KURNIAWAN
Anak asuh Yayasan Al Ikhlas saat berinteraksi dengan salah satu donatur. Foto-foto Masruroh/BasraPandemi COVID-19 yang sudah berlangsung selama lebih dari lima bulan, memberi pengaruh yang signifikan terhadap kehidupan anak yatim dan duafa di panti asuhan. Salah satunya seperti yang dialami Panti Asuhan Al Ikhlas di Surabaya. Sejak pandemi, banyak donatur tidak bisa lagi menyalurkan bantuannya kepada panti asuhan. Kondisi ini sangat berpengaruh bagi kehidupan 76 anak yatim dan duafa yang diasuh di panti asuhan itu."Donatur dari jamaah masjid di daerah ini masih tetap berjalan meski berkurang sekitar 40 persen. Donatur spontan yang tidak ada sama sekali selama pandemi merebak," ujar Nurr Rahmawati, Ketua Yayasan Al Ikhlas, saat dijumpai Basra usai penyerahan donasi buku dan peralatan alat tulis dari Rotary Club Surabaya Kaliasin, 18/8.Lebih lanjut Nurr mengungkapkan, biaya sekolah dan biaya kebutuhan makan anak asuhnya, selama ini sebagian besar berasal dari uang para donatur. Ke 76 anak asuhnya berusia jenjang PAUD hingga pandemi pula, pihaknya terpaksa mengembalikan anak yatim yang sebelumnya tinggal di panti kepada keluarganya."Sebelum pandemi, ada anak asuh yang tinggal di panti meski tidak semua. Sejak pandemi kita pulangkan mereka, untuk protokol kesehatan juga, tapi kebutuhan makan dan biaya sekolah mereka masih menjadi tanggung jawab kami," tukas perempuan berkacamata 76 anak asuh Panti Asuhan Al Ikhlas tinggal di Surabaya. Untuk kebutuhan makan mereka, lanjut Nurr, akan dikirim langsung ke kediaman masing-masing setiap donatur merosot drastis, namun jumlah anak asuh dan dhuafa Panti Asuhan Al Ikhlas justru bertambah. Nurr menyebutkan di bulan Juli hingga awal Agustus, ada penambahan 5 orang duafa, 4 anak yatim, dan 3 anak piatu yang menjadi asuhannya."Kondisi memang sedang susah, tapi kita tidak bisa menolak mereka, apalagi dari anak yatim yang baru kami asuh ada yang ayahnya meninggal karena COVID-19," itu, Nurr sangat bahagia bila kedatangan donatur yang mau menolong atau memenuhi kebutuhan pangan anak-anak asuhnya. Donasi Buku dan Peralatan TulisSementara itu, Rotary Club Surabaya Kaliasin mendonasikan buku-buku tulis, dan peralatan tulis kepada TK Al Ikhlas, di bawah naungan Yayasan Al Ikhlas. Mayoritas siswa TK tersebut merupakan duafa dan anak Rotary Club Surabaya Kaliasin, Farah Nurani Tjinong, menjelaskan pihaknya berupaya ikut andil dalam sektor pendidikan di tengah pandemi sekarang ini. Apalagi anak didik di jenjang TK merupakan masa pertumbuhan dan buku bisa menjadi stimulus pembelajaran."Semoga dengan bantuan ini bisa menambah semangat anak-anak belajar meski tak bisa langsung datang ke sekolah," ujar Farah.
PANTI Asuhan Anak Yatim Piatu dan Fakir Miskin Al-Ilham, Jalan Unggas, Simpang Tiga, Pekanbaru. SELASAR RIAU, PEKANBARU - Sekelompok anak-anak asyik bermain catur di teras. Sedangkan lainnya, membuat tugas di kamar bersama-sama. Anak-anak perempuan lainnya, sibuk menjemur pakaian yang baru saja usai dicuci, dijemuran. Gambaran seperti itu, anak-anak bermain di teras, belajar bersama di dalam kamar bersama-sama, serta jemur pakaian saat matahari mulai naik, sudah terjadi sejak tiga bulan terakhir. Tidak banyak perabotan dalam kamar. Di ruang tidur seukuran 8x5 meter itu, hanya ada tiga alas tidur sudah lusuh. Di sisi dinding lainnya, terdapat rak meletakkan pakaian dan peralatan lain anak-anak panti asuhan. ANAK-anak penghuni Panti Asuhan Al-Ilham, Pekanbaru. Tak hanya sekelompok saja, setidaknya, 81 anak menghuni Panti Asuhan Anak Yatim dan Fakir Miskin Al-Ilham, Jalan Unggas, RT/RW 002/001, Simpang Tiga, Bukit Raya, Pekanbaru. Dari 81 anak penghuni Panti Asuhan Al-Ilham, perinciannya 43 laki-laki dan 38 perempuan. Hingga kini, sekolah diliburkan dari aktivitas belajar-mengajar. Penghuni panti terpaksa mengikuti proses belajar dari panti asuhan. Tengah pekan lalu, Pengelola panti, Badinar bercerita, Covid-19 membuat beban biaya bulanan semakin membengkak. Kondisi ini diperparah lagi dengan tagihan listrik PLN semakin membengkak dan mencekik leher. Ketika itu, ceritanya, dipicu pernyataan pemerintah, tagihan listrik akan diberi potongan. Badinar coba bayar lewat dari tenggat waktu. Nyatanya PLN datang dan langsung memutus aliran listrik di panti. Tanpa ada peringatan lebih dulu."Janji-janji listik murah itu omong kosong, harusnya kita kalau sudah berjanji itu harus ditepati," ucapnya kembali menceritakan kronologis peristiwa pemutusan listrik di panti. Waktu itu, usai bulan puasa. Hari Jumat, pengurus biasa memasak lapor ke Badinar, kalau listrik mendadak diputus. PENGELOLA Panti Asuhan dan Fakir Miskin Al-Ilham, Pekanbaru, Badinar. Emosinya memuncak saat tahu listrik di panti asuhan diputus secara sepihak oleh PLN. Ia sempat memaki pihak PLN yang hanya beban listrik saja bertambah, makan dan minum bagi anak-anak yatim piatu serta tak mampu menghuni Panti Asuhan Al-Ilham, ikut membengkak. Masa Covid-19 ini, pengelola harus memasak hingga 80 kilogram makanan harian. Badinar mengatakan, setiap bulannya panti asuhan harus mengeluarkan uang sedikitnya Rp 70 juta untuk biaya operasional tersebut. Jumlah tersebut, selain makan dan minum, juga memenuhi kebutuhan lainnya. Antara lain, biaya listrik, honor pengurus, dan sebagainya."Di sini jumlah penghuni beserta pengurus harian ada 85, dengan saya Badinar, cukup besar biaya makan setiap harinya," jelas awal-awal pandemi Covid-19, jelasnya, ia pernah mendapat bantuan dari Pemerintah Kota Pemko Pekanbaru berupa beras 10 karung, 5 bungkus minyak makan, mi instan, telur dan susu. Sebagai tambahan juga diberi masker dan hand ditanyakan, bagaimana anak-anak penghuni panti berjumlah 81 orang bersekolah. Badinar menjelaskan, semua anak bersekolah di Smart Indonesia School, mulai SD, SMP hingga SMA/SMK sederajat. Namun selama pandemi, anak-anak belajar dari rumah dengan metode dalam jaringan daring. Sesekali ada kunjungan dari para guru ke mengatakan, Smart Indonesia School memberikan potongan biaya masuk sekolah dan uang SPP. Untuk biaya masuk, tuturnya, dari Rp 3 juta, pengelola Panti Asuhan hanya membayar Rp 1 juta. Begitu juga pembayaran SPP, dari Rp 300 ribu menjadi Rp 150 ribu per antar dan jemput anak-anak Panti Asuhan bersekolah. "Sebelum Covid-19, anak-anak biasanya diantar ke sekolah dengan bus milik panti. Tapi sekarang, mereka harus belajar dari rumah saja," kata asuhan ini sudah berdiri selama lima tahun silam. Berawal dari hanya satu unit rumah tua terbuat dari papan kayu. Setelah Badinar punya cukup uang, ia membeli tanah tak jauh dari lokasi panti saat ini."Surat izin operasional dari Pemerintah Kota Pekanbaru, Dinas Sosial dan Pemakaman, berlaku sejak 13 Oktober 2016 hingga 13 Okrober 2021, tapi kami sudah buka tiga bulan sebelum itu," katanya menjelaskan. Setiap tahunnya, penghuni panti asuhan akan berganti. Anak-anak yang sudah tamat sekolah tidak lagi tinggal di panti dan digantikan dengan anak-anak akan masuk."Tahun kemarin sudah ada tamat 5 anak dan bekerja," asuhannya merawat anak-anak piatu dan fakir miskin. Selama pandemi, bagi mereka yang masih punya keluarga biasanya pulang ke rumah untuk beberapa Faruq 14, penghuni panti siang itu sedang melihat temannya bermain catur. Ia mengatakan, kegiatan anak-anak di panti selama pandemi adalah membersihkan pekarangan, merawat tanaman, dan belajar."Saya belajar online pakai ponsel abang, tugas dikumpul lewat ponsel, kadang videocall, untuk kuota dibeli pakai uang sendiri. Hanya saja, saya sulit memahami materi selama belajar online," kata bocah kelas 1 SMP sendiri berharap selamanya panti akan terus berdiri. "Saya berdoa semua penghuni selalu diberi kesehatan, umur panjang, dimudahkan rezekinya. Sekolah sampai mencapai cita-cita mereka," tutupnya.
Jakarta -Dampak pertempuran sengit di ibu kota Sudan, membuat 280 anak berusia antara satu bulan sampai 15 tahun harus dievakuasi dari panti asuhan Khartoum. Hal ini diungkapkan Komite Palang Merah Internasional ICRC seperti dilansir Reuters, dievakuasi ke selatan ibu kota Khartoum dalam operasi yang difasilitasi oleh ICRC pada Rabu 7 Juni dari Panti Asuhan Mygoma di Khartoum tidak memiliki akses perawatan kesehatan yang layak sejak pertempuran antara militer dan paramiliter RSF Sudan pecah pada 15 sebelumnya melaporkan bahwa puluhan bayi telah meninggal di sana sejak perang dimulai karena dehidrasi dan kekurangan asuhan tersebut telah menampung sekitar 400 anak sebelum konflik anak menderita kondisi kesehatan mental yang dapat “diperburuk oleh lingkungan konflik yang membuat mereka stres,” kata ICRC.“Mereka menghabiskan saat-saat yang sangat sulit di daerah di mana konflik telah berkecamuk selama 6 minggu terakhir tanpa akses ke perawatan kesehatan yang layak, situasi yang sangat sulit bagi anak-anak dengan kebutuhan khusus,” kata kepala delegasi ICRC di Sudan Jean-Christophe Sandoz. .ICRC mengatakan memperoleh jaminan keamanan dari pihak yang bertikai untuk memastikan jalan yang aman bagi anak-anak dan staf panti Anak-anak tersebut telah dipindahkan ke rumah perlindungan kementerian pembangunan sosial 14 juta anak sangat membutuhkan bantuan kemanusiaan untuk menyelamatkan nyawa di Sudan, jumlah tertinggi yang pernah tercatat di negara itu, kata meminta US$838 juta untuk mengatasi krisis, meningkat sebesar US$253 juta sejak konflik saat ini dimulai pada April 1,2 juta orang atau keluarga telah mengungsi secara internal akibat konflik pada 29 Mei, menurut Organisasi Internasional untuk Migrasi IOM.“Banyak dari mereka, termasuk anak-anak, wanita, lansia, dan lainnya dengan kebutuhan khusus, berlindung di gedung-gedung publik, atau dipaksa tidur di luar ruangan di mana mereka terpapar cuaca buruk dan ancaman kesehatan,” Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB UNOCHA Editor UNICEF Laporkan 13 Juta Anak-anak di Sudan Butuh BantuanREUTERS
Panti Asuhan Arrobitoh membuka pendaftaran setiap tahun dengan waktu pendaftaran menyesuaikan kenaikan kelas sekolah. Adapun syarat dan berkas yang perlu dipersiapkan adalah sebagai berikut 1. Anak Yatim/Yatim-Piatu 2. Surat Kematian Ayah 3. Surat Keterangan Tidak Mampu dari Lurah 4. Usia Minimal 6 Tahun dan Maksimal Kelas 6 SD/MI 5. Sehat Jasmani dan Rohani 6. Dapat Mengikuti Pendidikan di Lembaga Pendidikan Formal 7. Menyerahkan Akte Kelahiran atau Surat Keterangan Kenal Lahir 8. Menyerahkan Kartu Keluarga 9. Melampirkan Medical Check Up Surat Keterangan Sehat dari Puskesmas Setempat 10. Raport Terakhir dan Pas Foto 4x6 tiga Lembar beserta Softcopy Catatan Pendaftaran tidak dipungut biaya apapun dan seluruh biaya hidup dan pendidikan anak asuh ditanggung oleh yayasan GRATIS
Foto ilustrasi. - Ist/Freepik JOGJA – Selama pandemi, jumlah anak asuh di Panti Asuhan Atap Langit bertambah. Sebelum pandemi, jumlah anak asuh tidak pernah mencapai 40 anak. Saat ini, ada 46 anak yang menjadi tanggungjawab panti asuhan Pengurus Panti Asuhan Atap Langit Afrizal Apriandi, dari seluruh anak asuh, ada yang tinggal di panti asuhan, adapula yang masih tinggal dengan saudaranya. Saat ini, anak asuh yang tinggal di panti asuhan berjumlah 17 orang. Sisanya tinggal bersama saudara seperti pakdhe atau budhe. “Agar pengasuhan [anak yang di luar panti bisa] sama keluarga. Untuk kebutuhan kami tanggung,” kata Afrizal saat ditemui pada Senin 15/2.Anak asuh yang berada di luar panti kebanyakan tinggal di Kalurahan Keparakan dan Sayidan. Kedua Kalurahan ini masih dianggap terjangkau untuk pihak pengurus panti apabila hendak mengecek. Untuk anak yang berada di luar panti, setiap sebulan sekali ada bantuan berupa sembako, alat sekolah, dan juga Jadi Plh Bupati Bantul, Helmi Tak Ada Keputusan yang Dikeluarkan oleh PlhTidak hanya yatim piatu, terkadang anak yang dititipkan di Panti Asuhan Atap Langit lantaran pihak keluarga tidak mampu secara ekonomi. Sejak pandemi Covid-19, jumlah ini semakin meningkat. “[Pihak keluarga] minta bantuan ke sini, kami tidak bisa nolak. Kami jelaskan juga keadaan kami seperti ini [selama pandemi], kami seadanya saja. Untuk [biaya] sekolah bisa, kebutuhan pangannya insyAllah kami bantu,” kata panti asuhan milik kelaurga, operasional sehari-hari juga berasal dari pihak keluarga. Namun mereka tetap menerima bantuan dari luar. Sejak pandemi, bantuan dari luar turun secara signifikan. Secara jumlah tidak sampai setengah dari keadaan sebelum normal sebelum pandemi.“Yang penting kebutuhan anak-anak tercukupi. [Untuk biaya pendidikan, kami] minta dispensasi dan lainnya ke sekolah,” kata yang saat ini masuk kebanyakan berupa sembako. Namun karena banyak berupa sembako, saat ini jumlahnya menumpuk, terutama beras. Karena saking banyaknya, ada sebagian beras yang akhirnya berkutu. Untuk menyiasatinya, pihak panti menjual beras sumbangan agar tidak berkutu atau tak juga Sebelum Sertijab, Sigit dan Windarti Kulineran Sop Senerek Legendaris“[Uang penjualan beras] masuk ke tabungan panti, untuk panti juga,” kata beras, mie instan juga menumpuk. Sementara itu, Afrizal mengatakan tidak mungkin setiap hari anak-anak akan makan mie instan. Secara bentuk, bantuan uang bisa lebih baik dan fleksibel. Uang tersebut akan dialokasikan sesuai dengan kebutuhan.“Alhamdulillah masih ada yang donasi, kami bersyukur. Kalau ada tamu yang tanya ini apa yang dibutuhkan, lebih baik berbentuk uang, tapi kalau kasih apapun tetap kami terima,” Panti Juga BerkurangTidak hanya donasi, kegiatan panti asuhan juga berkurang. Pada kondisi normal, seminggu bisa ada empat atau lima acara. Biasanya, acara berupa bakti sosial dari berbagai kampus. Saat ada acara tersebut, anak-anak panti terlihat sejak pandemi, tidak ada acara sama sekali. “Anak-anak sering tanya, kok enggak ada kegiatan lagi ya, kok enggak ada acara ya.’ Mereka tunggu-tunggu,” kata Afrizal menirukan pertanyaan anak-anak pada bulan Ramadan tahun lalu, tidak ada acara sama sekali. Pada kondisi normal, setiap hari pasti ada acara buka bersama. Menurut Afrizal, bulan Ramadhan menjadi rezekinya anak-anak panti makanan enak, kadang orang yang datang dan membuat acara di panti memberikan uang langsung ke anak-anak. Uang tersebut murni untuk anak, pihak pengurus panti tidak mengganggunya. “[Bulan Ramadan] sebelumnya, [satu] anak bisa mengumpulkan Rp1,5 juta. Tahun ini tidak ada sama-sekali. [Untungnya] ada yang bantu ngajak belanja lebaran [untuk anak-anak panti], beli kebutuhan lebaran,” kata satu kegiatan internal yang masuk bertahan adalah Jumat Berkah. Setiap Jumat pukul WIB, warga Panti Asuhan Atap Langit akan mengadakan salawatan. Setelah itu ada kegiatan berbagi makanan untuk orang-orang yang sekiranya terlibat mulai dari proses memasak sampai menyalurkan makanan. “Kenapa panti bagi-bagi? Bukan kami sok-sokan, kami ingin anak-anak setelah mereka selesai sekolah, bisa mandiri, bisa mengusahakan mereka inget untuk berbagi. Kami ajari dari sekarang anak-anak untuk berbagi,” kata kegiatan mingguan Jumat Berkah, setiap pagi anak-anak berkumpul untuk belajar bersama. Sejak sekolah dengan model dalam jaringan daring, pihak panti juga memasang Tuna NetraTidak jauh berbeda dengan Panti Asuhan Atap Langit, Panti Asuhan Tunanetra Yayasan Kesejahteraan Tunanetra Islam YAKETUNIS juga mengalami penurunan dalam penerimaan donasi. Menurut ketua panti, Wiyoto, sejak panti berdiri tahun 1964, bantuan dari berbagai pihak, terutama masyarakat cukup semasa pandemi, donasi banyak berkurang. “Sampai sekarang [di Bulan Februari] belum ada [bantuan],” kata Wiyoto saat ditemui di kantornya pada Senin 15/2/2021.Adapun bantuan rutin berasal dari Yayasan Soeharto dan JNE. Setiap bulannya, Yayasan Soeharto memberi bantuan Rp1,5 juta dan JNE memberi beras satu kuintal beserta uang Rp1 juta. Namun menurunnya bantuan tidak begitu berpengaruh untuk saat ini. Selama pandemi, anak-anak tunanetra yang berada di panti pulang ke keluarganya masing-masing. Hanya tinggal tiga anak yang masih berada di ini, ada total 85 anak asuh Panti YAKETUNIS. Bantuan pemerintah yang datang berupa masker, sabun, hand sanitizer, alat cuci tangan, dan alat terkait penanganan Covid-19 lainnya. Namun belum ada bantuan berupa uang atau sembako.“Dari pemerintah sejak tahun 2017 tidak ada [bantuan], untuk makanan panti tidak ada,” kata Wiyoto. “Dari Pemerintah Kota [Jogja] beberapa tahun ke belakang enggak ada. Saya tetap optimis, Allah sudah mengatur.”Menurut Kepala Seksi Bidang Rehabilitasi Sosial Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kota Jogja, Rudia Sri Rahaptrien, bantuan pada panti dalam rangka penanganan Covid-19 berupa pemberian Alat Pelindung Diri, masker, hand sanitizer, hand soap, sarung tangan, face shield, dan sprayer.“Tidak ada,” kata Rudia terkait bantuan berupa sembako atau uang, saat dihubungi secara daring pada Selasa 16/2/2021. BACA JUGA Kementerian BUMN Bersama Telkom Bagikan 1000 Paket Sembako Murah di Batulicin Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
biaya masuk panti asuhan